Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2009

Asal Usul Saminisme

3.

                                                Asal-usul Saminisme

 

DARI MANA SEBENARNYA Kiai Samin Suråsentikå mendapatkan kitab yang berisi pokok ajarannya? Warga Samin di Tapelan, dalam wawancara dengan Profesor Suripan, menyatakan percaya Ki Samin mengarang sendiri kelima buku Layang Jamus Kalimåsådå[1]. Selain Layang Punjer Kawitan, empat buku yang lain ialah Serat Pikukuh Kasajatèn, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, dan Serat Lampahing Urip.[2]

Akan tetapi, tradisi lisan di Tapelan dikutipnya juga menyuguhkan cerita rakyat berikut:

“Samin Surå(se)ntikå suka sekali bersemadi di tempat sepi atau di tempat yang dianggap keramat. Pada waktu sedang bersemadi, ia menerima wangsit[3]. Wahyu tersebut berisi anjuran agar ia segera mencari buku kuno. Buku tersebut masih terpendam di tanah dekat tempat semadinya.”

“Samin Surå(se)ntikå segera bangun dari semadi. Ia mematuhi anjuran wangsit. Benar apa yang dikatakan wahyu itu. Buku tersebut tersimpan di gundukan tanah rumah anai-anai. Dengan tanpa pikir panjang lagi, buku kuno itu diambilnya. Ke mana saja ia pergi, buku kuno itu selalu dibawanya.”

“Buku kuno itulah yang bernama Layang Jamus Kalimåsådå. Buku ini pernah dimiliki oleh Prabu Puntådéwå[4]. Isi buku inilah yang kini dijadikan pedoman hidup warga Samin sampai sekarang.”[5]

Cerita rakyat ini rupanya sampai juga ke telinga peneliti Saminisme. J. Bijleveld, misalnya, merekamnya sebagai berikut:

“Samin was standing inadvertently in front of a high mountain, solely thinking about the Supreme Being. It was absolutely quite while Samin was beseeching the Supreme Being to bless humanity. Suddenly a kitab –a book– was dropped in front of him containing rules for the salvation of mankind. Samin read the book and became very happy and went to the town of Tjaringén.”[6]

(Samin berdiri tenang di depan gunung tinggi, diam berpikir tentang Yang Maha Agung. Begitu tekun Samin memohon kepada Yang Maha Kuasa agar memberkati manusia. Mendadak satu kitab jatuh di depannya berisikan pedoman penyelamatan umat manusia. Samin membaca buku itu dan menjadi begitu gembira dan pergi ke kota Caringin.)

Anehnya, Bijleveld juga menulis bahwa “… his grandfather and his ancestors already had held the religious beliefs preached by him…”[7] (… kakeknya dan nenek moyangnya sudah memeluk kepercayaan agama yang dianutnya…).

Kitab itu jatuh begitu saja dari langit? Kakeknya dan nenek moyangnya sudah memeluk agama yang dianutnya? Ki Samin menulis sendiri buku pedoman ajarannya? Pergi ke Caringin? Di mana Caringin itu?

Kata “nenek moyang” semestinya lebih didekatkan dengan “kakek”. Dengan demikian, “nenek moyang” yang dimaksud Ki Samin itu masih relatif dekat. Apalagi, silsilah dalam Layang Punjer Kawitan lebih menekankan adipati, raja, dan wali di Jåwå. Karena itu, sangat boleh jadi, yang dimaksudnya dengan “nenek moyang” itu tidak lain adalah para pendiri kerajaan Demak dan Mataram. Dengan kata lain, Ki Samin hanyalah menulis kembali “kitab” lama, entah itu yang ditulis oleh Sultan Agung –bisa saja serat Sastrå Gendhing– atau mungkin silsilah yang disusun kembali oleh R.M.Ng. Rånggåwarsitå.

Bahkan, dalam Serat Uri-uri Pambudi, Ki Samin menulis anjuran “… sartå mangertos dhateng tembung kawi punikå kasaged anggampilaken pangertosan anggènipun remen maos buku karanganipun pårå linangkung ing jaman kinå” (serta mengerti kata bahasa Kawi agar dapat memudahkan pemahaman saat membaca buku karangan orang cerdik pandai pada zaman dulu).[8]

Ajakan ini dilanjutkan dengan contoh “upaminipun kados déné serat punikå utawi Wédhåtåmå kawedar” (misalnya seperti buku yang saya baca ini atau Wédhåtåmå yang diuraikan).[9] Serat Wédhåtåmå ditulis oleh Kanjeng Gusti Pangéran Aryå Adipati (K.G.P.A.A.) Mangkunegårå IV.[10]

Ada juga kalimat nasihat agar orang “mangertos dhateng larasing sekar ageng ingkang asri kagem ambawani gendhing” (mengerti akan irama tembang besar yang bagus untuk mengawali lagu),[11] yang boleh jadi menunjuk pada serat Sastrå Gendhing.

Ki Samin juga membaca karya dan tahu riwayat hidup Rånggåwarsitå seperti terbukti dari ucapannya “… Rånggåwarsitå piyambak sampun nglampahi, ngebleng kanthi angeningaken ciptå…” (… Rånggåwarsitå sendiri sudah menjalani, tidak makan garam dan bersemadi).[12]

Selanjutnya, ia mengajak orang meneladani hal yang baik dalam cerita pewayangan, misalnya “… tekadipun dhateng kasédan Sang Wiku Jamadagni punikå dipun cariyosaken wonten ing Serat Råmå {… tekad Sang Pendeta Jamadagni ingin meninggal (tanpa terikat oleh trilokå) itu diceritakan dalam Serat Råmå}.[13]

Oh ya, tentang Caringin, satu-satunya desa bernama ini yang saya ketahui hanyalah yang berada di Kecamatan Labuan, Kabupatèn Pandéglang. Lokasinya berjarak 43 km dari Kota Pandeglang atau sekira 66 km dari Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten. Di Caringin, kira-kira pada tahun 1884, penduduk secara bergotong royong, dipimpin oleh K.H. Muhammad Asnawi bin ‘Abd al-Råhman, mendirikan Masjid Salafiah. Tidak jauh dari masjid ini, di tepi pantai, terdapat makam ulama tersebut, yang lebih dikenal sebagai Syèkh Asnawi Caringin,  yang wafat pada tahun 1356 H (1937 M).[14]

(Ki Slamet No One) ]

[1]       Jamus Kalimåsådå itu jimat Puntådéwå, sulung Pandhåwå. Berkat jamus ini, ia selalu memeroleh perlindungan dan petunjuk ke arah kebenaran dan kesejahteraan. Sayang, yang dapat membaca jimat ini hanya para wali. Padahal, Puntådéwå baru bisa mati setelah tahu isi jamus tersebut. Karena itu, Puntådéwå hidup sampai zaman Demak. Ia baru bisa pulang ke haribaan Penciptanya setelah diwejang isi Jamus Kalimåsådå oleh Sunan Kalijågå. Jasad Puntådéwå, konon, dimakamkan di Masjid Demak, namun hal ini belum diselidiki kebenarannya. Lihat Drs. R. Soetarno A.K., Ensiklopedia Wayang, Dahara Prize, Semarang, cetakan keempat, 1994, halaman 238-239.

[2]       Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 19-20.

[3]       Sebenarnya istilah wangsit ini tak perlu dicetak miring. Dalam Tim Redaksi, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat (KBBI-4), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, cetakan pertama, 2008, halaman 1556 kolom 1, kata “wangsit” dimaknai “pesan (amanat) gaib”.

[4]       Puntådéwå itu sulung Pandhåwå. Ia berdarah putih, titisan (awatara, avatar) Hyang Darmå. Karena itu, ia juga disebut Darmåkusumå. Namanya yang lain Gunåtalikråmå. Dalam pewayangan Sunda, ia lebih dikenal dengan nama Samiaji. Begitu juga sahabatnya, Prabu Kresnå, memanggilnya. Ia jujur dan sabar, tidak pernah marah. Permaisurinya dua: Dèwi Drupadi dan Dèwi Kuntulwilanten. Ia menjadi raja Amartå atau Indråprastå bergelar Prabu Yudhistirå. Setelah Baråtåyudå, ia menjadi raja Astinå, bergelar Prabu Kalimåtåyå. Soetarno A.K., op.cit., 1994, halaman 238-239.

[5]       Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 20.

[6]       C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 122, dengan mengutip J. Bijleveld, De Samin beweging, dalam Koloniaal Tijdschrift, 1923, halaman 16.

[7]       C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 122, dengan mengutip J. Bijleveld, op.cit., dalam Koloniaal Tijdschrift, 1923, halaman 10.

[8]       Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 38.

[9]       Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 38.

[10]       Meski masih dipertanyakan siapa sebenarnya yang menulis serat ini, untuk sementara, kita terima saja fakta ini. Tentang perdebatan ini, dapat dibaca Yusro Edy Nugroho, Serat Wedhatama: Sebuah Masterpiece Jawa dalam Respons Pembaca, Penerbit Mimbar, Semarang, cetakan pertama, 2001, halaman 17-19.

[11]       Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 38.

[12]       Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 38.

[13]       Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 38.

[14]       Anonim, Buku Panduan MTQ Nasional XXII 2008 Serang Banten, Panitia, Serang, 2008, halaman 54.

Iklan

Read Full Post »

2.

Kronologi Gègèr Samin (1905-1930)

 

KI SAMIN mulai mengembangkan dan menyebarkan ajarannya pada tahun 1890 di Desa Klopod(h)uwur. Banyak orang desa di wilayah sekitarnya, antara lain dari Tapelan, datang berguru. Waktu itu, pemerintah kolonial belum tertarik karena merebaknya kepercayaan yang mengakibatkan berkumpulnya orang itu belum dianggap mengganggu keamanan.[1]

Padahal, ajaran Samin cepat tersebar. Residèn Rembang, Fraenkel, pada tahun 1903 melaporkan ada 772 orang Samin yang tersebar di 34 desa di Blora bagian selatan dan Bojonegoro. Mereka giat menyebarkan ajaran Ki Samin.

Dua tahun kemudian, pada tahun 1905, dipelopori oleh Ki Samin sendiri, warga Samin mulai mengubah tata cara hidupnya. Mereka tak lagi menyetor padi ke lumbung desa dan tak mau membayar pajak. Mereka juga menolak mengandangkan kerbau dan sapinya di kandang umum.

Sikap itu menjengkelkan pamong dan warga desa yang bukan penganut ajaran Samin. Mereka pun melontarkan julukan –dalam arti negatif– wong Samin dan wong Dam, orang yang menganut agåmå Adam.

Pada tahun 1907, jumlah pengikut Samin mencapai 5.000 jiwa.[2] Akan tetapi, Encyclopaedie van Nederlandsch Indie yang terbit pada tahun 1919 baru mencatat angka 2.300 jiwa, dengan persebaran di regensi: Blora, Bojonegoro, Pati, dan Kudus.[3]

Pemerintah Hindia Belanda terkejut dan juga takut, apalagi ada desas-desus bahwa pada tanggal 1 Maret 1907, mereka akan memberontak. Waktu itu, di Desa Ked(h)ungtuban, Kabupatèn Blora, ada orang Samin selamatan. Mereka yang menghadirinya ditangkap, karena dianggap mempersiapkan pemberontakan.

Pada tanggal 8 November 1907, Ki Samin diangkat oleh pengikutnya menjadi ratu adil dengan gelar Prabu Panembahan Suryångalam. Empatpuluh hari kemudian, Ndårå Setèn (Asistèn Wedånå, Camat) Randublatung, Radèn Pranålå, menangkap dan menahannya di bekas tobong, tempat pembakaran batu gamping. Ia kemudian dibawa ke Rembang, diinterogasi, dan bersama delapan pengikutnya dibuang ke luar Jåwå,[4] tepatnya di Sumatera. Tuduhannya: penghasutan dan pendurhakaan (sedition).[5]

Penangkapan tersebut tidak memadamkan Gerakan Samin. Wångsårejå giat menyebarkan ajaran itu di Distrik (kini: Kecamatan) Jiwan, Regensi (kini: Kabupatèn) Madiun, pada tahun 1908. Ia mengajak orang desa tidak membayar pajak. Ia bersama dua temannya ditangkap dan dibuang.

Suråhidin, menantu Ki Samin, dan Engkrak, pengikutnya, menyebarkan ajaran Samin di Grobogan (Purwådadi), sedangkan Karsiyah, juga pengikutnya, di Kajèn, Regensi (kini: Kabupatèn) Pat(h)i, Karesidènan Semarang, pada tahun 1911. Pada tahun berikutnya, 1912, pengikutnya yang lain berusaha menyebarkan ajaran itu di Jatirogo, Tuban, tetapi gagal.

Ki Samin meninggal di pengasingan pada tahun 1414. Saminisme kian merebak, khususnya di wilayah Pat(h)i.[6] Gègèr Samin justru mencapai puncak pada tahun tersebut, karena pemerintah Hindia Belanda menaikkan pajak. Di Grobogan, orang Samin tak mau lagi menghormati pamong desa dan pemerintah. Di Distrik Balérejå, Madiun, orang Samin mengibuli pemerintah dan tak mau membayar pajak. Di Kajèn, Karsiyah tampil sebagai Pangéran Sendhang Janur, mengimbau orang desa tidak membayar pajak.[7]

Di Desa Larangan, Pat(h)i, orang Samin menyerang lurah dan polisi. Di Tapelan, mereka tak mau membayar pajak, mengancam asistèn wedånå, kemudian ditangkap dan dipenjara. Samat, pemimpin Pergerakan Samin di Pat(h)i, mengajarkan bahwa Ratu Adil akan datang bila tanah yang “digadaikan” kepada pemerintah Hindia Belanda dikembalikan kepada orang Jåwå.[8]

Pada tahun 1915, usaha penyebaran Saminisme di daerah Jatirogo, Tuban, diulang, tetapi lagi-lagi menemui kegagalan. Warga Samin pun mencari daerah baru. Mereka merambah daerah Und(h)an, Kudus, pada tahun 1916.

Pada tahun 1917, pengikut Engkrak meningkatkan perlawanan terhadap pemerintah Belanda penjajah dengan apa yang disebut “perlawanan pasif”. Namun, pemerintah akhirnya dapat memadamkan “pemberontakan” yang menjengkelkan ini.

Pada tahun itu, menurut C.L.M. Penders yang mengutip data J.E. Jasper, di Bojonegoro, ada 283 keluarga penganut Saminisme yang tinggal di Distrik Pad(h)angan, Tambakrejo, dan Ngampak.[9]

Pada tahun 1930, pergerakan Samin terhenti karena tiadanya pemimpin yang tangguh, meskipun pada tahun 1945, menurut tradisi lisan di Blora, Engkrèk dari Klopod(h)uwur ikut bertempur di Suråbåyå melawan Belanda. Katanya, ia akan menyambut datangnya Ratu Adil.[10]

Sebenarnya gerakan Samin tidak pernah mati. “The movement never quite disappeared. So there were references to Saminists in the former regency of Blora still as late as the late 1960’s (the 1967). And in 1973 a Dutch researcher paid a visit to a community of Saminists in the village of Kutuk in the Kabupatèn of Kudus, in the former residency of Semarang. Of a total population of 5.000 of this desa, allegedly 2.000 persons were Saminists (Mulder). Prior to 1920 the total number of followers of the movement never at any one time exceeded 3.000 heads of households,” tulis A. Pieter E. Korver.[11]

{Gerakan itu tidak pernah benar-benar menghilang. Begitulah, ada rujukan bahwa Saminisme masih ada di bekas Regensi Blora hingga akhir dasawarsa 1960-an, tepatnya 1967. Dan pada tahun 1973, peneliti Belanda mengunjungi masyarakat Samin di Desa Kutuk di Kabupatèn Kudus, di bekas Karesidènan Semarang. Dari total 5.000 jiwå penduduk desa itu, 2.000 jiwå di antaranya diduga keras pengikut Saminisme, (kata Niels Mulder). Sebelum tahun 1920, total jumlah penganut ajaran Samin tidak pernah melebihi 3.000 keluarga pada satu waktu.”}

Meski pemerintah kabupatèn setempat –karena malu!– sejak zaman Orde Baru senantiasa bersikukuh Saminisme telah tiada lagi, pada kenyataannya ajaran yang dianggap mirip milenarisme ini tetap tumbuh. Bahkan, dalam beberapa tahun menjelang akhir dasawarsa 2000-an ini, ketika kejujuran merupakan “barang langka”, Saminisme seperti kembali mendapatkan momentum.

(Ki Slamet No One)

 [1] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 14. Lihat juga:

  • Pieter E. Korver, The Samin Movement and Millenarism, dalam Bijdragen tot de Taal-,Land- en Volkenkunde, 132, Leiden, 1976, halaman 249 dari 249-266. Bijdragen atau BKI adalah majalah terbitan Koninklijk Instituut voor Taal-,Land- en Volkenkunde (KITLV).
  • Nancy Lee Peluso, Rich Forests, Poor People: Resource Control and Resistance in Java, sebagaimana dikutip oleh G. Sujayanto dan Mayong Suryo (M.S.) Laksono, “Samin: Melawan Penjajah Dengan Jawa Ngoko”, dalam majalah Intisari, Juli 2001, yang juga dipunggah ke website hhtp://www.indomedia.com/intisari/2001/Juli/warna_samin.htm, yang di antaranya juga di-posting ke laman http://desantara.org/v3, 1 Desember 2008, 11:37.

[2]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 14.

[3]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 12, dengan mengutip Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, 1919.

[4]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 15. Lihat juga Anonim, op.cit., dalam Wikipedia®, 12 Juli 2008.

[5]  A. Pieter E. Korver, op.cit., dalam BKI, 1976, halaman 249-250 dari 249-266.

[6]  A. Pieter E. Korver, op.cit., dalam BKI, 1976, halaman 250 dari 249-266.

[7]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 15. Lihat juga Anonim, op.cit., dalam Wikipedia®, 12 Juli 2008.

[8]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 16.

[9]  C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 117, dengan mengutip J.E. Jasper, Verslag betreffende het onderzoek in zake de Samin beweging, Landsdrukkerij, Batavia, 1918, halaman 3.

[10]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 16.

[11]  A. Pieter E. Korver, op.cit., dalam BKI, 1976, halaman 250 dari 249-266.]

Read Full Post »

1.

Siapa Samin Surasentika itu?

JAUH BERBEDA dari yang disebutkan Dr. C.L.M. Penders bahwa Samin Suråsentikå itu petani buta huruf, Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo, sewaktu masih menjabat dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya, menyebutnya “Samin Surå(se)ntikå… intelektual desa yang tinggal di Desa Klopodhuwur, Blora, …”[1]

Tidak hanya itu, bagi Profesor Suripan, Samin itu juga sesepuh (pemimpin yang dihormati), guru kebatinan, dan pemimpin pergerakan melawan pemerintah Belanda kolonial. Ia juga raja Tanah Jåwå yang adalah Ratu Adil Heru Cåkrå dengan gelar Prabu Panembahan Suryångalam. Patih dan senapatinya, Suryångalågå, adalah kamituwå Desa Bapangan, Kabupatèn Blora. Kata warga Samin di Tapelan, Samin menjadi raja bukan atas kemauannya sendiri, tetapi atas permintaan rakyatnya, terutama dari Desa Tapelan, Ploso Kedhirèn, dan Tanjungsari.[2]

Profesor yang populer sebagai ahli seni kentrung ini mendasarkan keterangannya tidak hanya pada tuturan masyarakat Samin di Desa Tapelan, Kecamatan Ngraho, Kabupatèn Bojonegoro, Jåwå Timur, tempat Samin menyebarkan ajarannya pada kesempatan awal, melainkan juga rekaman hasil penelusuran oleh mereka yang disebutnya para peneliti Gègèr (Pergerakan) Samin. Selain Victor T. King dan The Siauw Giap, mereka ini termasuk Harry J. Benda, Lance Castles, A. Pieter E. Korver, Onghokham, dan R.P.A. Suryanto Sastroatmodjo.[3]

Menurut Suripan, Samin Suråsentikå lahir di Desa Ploso Kedhirèn, Kecamatan Randublatung, Kabupatèn Blora, Jåwå Tengah, pada tahun 1859, dengan nama Radèn Kohar. Ia lima bersaudara, seperti Pandhåwå dalam pewayangan, tepatnya dalam kisah Måhåbharåtå, semuanya laki-laki.[4]

Bagi pemerintah Hindia Belanda, ayahnya, Radèn Suråwijåyå –orang Tapelan menyebutnya Samin Sepuh–, adalah bråmåcorah (residivis), penjahat kambuhan yang keluar-masuk bui atau penjara, tetapi bagi wong cilik (orang kecil) yang miskin di daerah pedesaan di wilayah Bojonegoro, ia itu pencuri budiman, semacam Robin Hood di hutan Sherwood di Inggris.[5]

Raden Kohar mengubah namanya menjadi Samin, identitas yang bernafas kerakyatan. Kemudian, setelah menularkan ajarannya –dalam istilah Profesor Suripan “menjadi guru kebatinan”– namanya ditambah menjadi Samin Surå(se)ntikå, tetapi anak-didiknya lebih suka memanggilnya Kiai Samin Suråsentikå atau Ki Samin saja.[6]

Ia punya pertalian darah dengan Kiai Keti di Rajègwesi (kini: Bojonegoro), dan juga Pangéran Kusumaningayu, yang dalam tradisi Jåwå Timur disebut Kanjeng Pangéran Aryå (K.P.A.) Kusumåwinahyu, nama lain Radèn Mas Adipati (R.M.A.) Bråtådiningrat yang memerintah Kadipatèn Sumåråtå, kini menjadi daerah kecil di Kabupatèn Tulungagung, Jåwå Timur, pada tahun 1802-1826.[7]

Profesor Suripan mendasarkan keterangannya tentang silsilah Ki Samin pada buku pertama dari lima kitab pusaka peninggalannya, yang secara kumulatif disebut Serat atau Layang Jamus Kalimåsådå.[8] Pakar yang lahir di Blora 5 Februari 1940 ini memang beruntung, berbeda dari peneliti lain mengenai Saminisme, ia tidak hanya berhasil mengumpulkan tradisi lisan dari anak-keturunan penganut kepercayaan ini di Tapelan serta desa lain di Blora dan Bojonegoro, belakangan juga Rembang, melainkan juga tradisi tulis di kalangan mereka.

Memang, menurut warga Samin yang diwawancarainya di Tapelan, pada waktu Ki Samin disélong[9] (istilah lokal untuk “ditangkap, ditahan, dan dibuang ke luar Jåwå”), semua bukunya dirampas dan dibakar oleh Belanda. “Untung, beberapa murid tepercaya Ki Samin masih menyimpan salinan buku tersebut, meski anak-cucunya kini tak dapat membacanya,” kata warga Samin itu.

Buku pertama dari lima kitab yang oleh penganut Saminisme dianggap keramat itu ialah Serat Punjer Kawitan atau “buku perihal silsilah keluarga yang pokok atau utama”. Isinya pertalian keluarga adipati di Jåwå Timur serta raja dan wali terkenal di Tanah Jåwå. Dari segi kronologis, silsihan keluarga Ki Samin ini dapat dikatakan merupakan “penjungkirbalikan” genealogi yang terdapat dalam Babad Tanah Djawi.

Pada tahun 1975, Profesor Suripan menemukan manuskrip (naskah tulisan tangan berhuruf Jåwå ukuran folio) Layang Punjer Kawitan itu dimiliki oleh Samsuri (70 tahun), penganut Saminisme di Desa Tapelan. Menurut Samsuri, tidak semua penganut ajaran tersebut dapat membaca Serat Punjer Kawitan, sebab banyak di antara mereka buta aksara Jåwå. Bagi mereka ini, Ki Samin mengajar melalui sesorah (ceramah), baik di rumah maupun di tanah lapang, hanya tentang pokok atau inti sari ajarannya saja. Karena itu, ajaran tersebut sampai ke penganut dalam keadaan tidak lengkap dan membingungkan. Hal itu tecermin pada tradisi lisan orang Samin di Desa Tapelan.[10]

Masih menurut Samsuri, murid Ki Samin yang dapat membaca dan menulis aksara Jåwå sajalah yang diperkenankan membaca dan menyalin buku karya Samin Suråsentikå. Dengan jalan itulah, ajaran Samin dapat dipelajari dengan baik oleh para muridnya. Buku salinan ini kemudian tersebar di berbagai daerah Samin.[11]

Sebagai petani, Ki Samin sendiri bukanlah orang miskin. Ia memiliki sawah tiga bau, ladang satu bau, dan sapi enam ekor.[12] Dari senarai bacaannya yang luas dan kemampuannya menyusun ajarannya dalam bentuk tembang måcåpat, dalam pandangan Suripan, Kiai Samin Suråsentikå tidak hanya merupakan intelektual yang tangguh, melainkan juga berhasil menjadikan diri salah satu pujangga Jåwå pasisiran yang hidup setelah Radèn Mas Ngabèhi (R.M.Ng.) Rånggåwarsitå (h. 1802-1873).[13]

Suripan bahkan menyebut Ki Samin penerus tradisi Rånggåwarsitå sebagai apa yang disebutnya “pemberontak zamannya”. Bedanya: pujangga penutup Keraton Suråkartå itu memberontak melalui karyanya, sedangkan Ki Samin memanifestasi diri sebagai tokoh pergerakan. Bagi Suripan, silsilah yang ada dalam Serat Punjer Kawitan membuktikan bahwa Ki Samin itu pangéran atau bangsawan yang menyamar di kalangan rakyat kecil guna menghimpun kekuatan untuk melawan Belanda penjajah dengan “cara yang berbeda”.[14]

 

(0) Saudara Seperguruan dan Seperjuangan Nåyå Gimbal?

Ada data aneh pada naskah ketik yang tidak diketahui siapa penulis dan kapan pula menulisnya. Manuskrip koleksi Profesor Suripan yang banyak mengandung salah ketik ini menyatakan Suråsentikå itu teman seperguruan dan seperjuangan Nåyå Sentikå dalam Perang Dipånegårå (1825-1830) di Yogyåkartå.

“Pepakem nyariosaken wiwitanipun ing Dhukuh Sumber Wangi kataneman tiyang tetigå ingkang nåmå Nåyå Santikå, tuwin ingkang garwå Dyah Ayu Sumarti, tuwin kadang tunggil Båpå Guru tuwin tunggal perjuangan ingkang nama Surå Sentikå. Sedåyå kålå wau bekas prajuritipun Kanjeng Pangéran Dipånegårå.”[15]

(Buku induk menceritakan awal di Dukuh Sumber Wangi ditempatkan tiga orang yang bernama Nåyå Sentikå, bersama istrinya, Dyah Ayu Sumarti, bersama saudara seperguruan dan seperjuangannya yang bernama Surå Sentikå. Semuanya itu bekas prajurit Pangéran Dipånegårå.)

“… Nåyå Sentikå taksih émut nalikå kålå rumiyin dados prajuritipun… Dipånegårå milai tanggal 20 Juli 1825 ngantos tanggal 28 Maret 1830. Nåyå… pisah… milai tanggal 10 Desember 1831. Nåyå Sentikå sakkåncå… sami ngupadi panggesangan lan sami ngungsi dumugi Dhukuh Sumber Wangi… dados jiwå… ngantos dumugi tahun 1855.”[16]

(… Nåyå Sentikå masih ingat saat dulu menjadi prajurit… Dipånegårå mulai tanggal 20 Juli 1825 sampai tanggal 28 Maret 1830. Nåyå… pisah… mulai tanggal 10 Desember 1831. Nåyå Sentikå bersama para sahabatnya… bersama-sama mencari penghidupan dan bersama-sama mengungsi ke Dukuh Sumber Wangi… menjadi penduduk… sampai tahun 1855.)

Lebih anehnya lagi, saat meringkas manuskrip itu, Profesor Suripan menulis, “Setelah Pangéran Dipånegårå ditangkap Belanda, ia bersama istri dan… teman seperjuangannya, termasuk Surå Sentikå (yang kemudian terkenal sebagai Samin Surå(se)ntikå, pemimpin Gerakan Samin), sejak tanggal 10 Desember 1831 mengungsi untuk menyusun kekuatan baru demi melanjutkan perjuangan mengusir penjajah Belanda. Kemudian, Nåyå Sentikå…”[17]

Apa yang aneh dari potongan data tersebut? Kiai Samin Suråsentikå baru lahir pada tahun 1859 di Desa Ploso Kedhirèn, bagaimana mungkin ia ikut Perang Dipånegårå dan mengungsi bersama Nåyå Sentikå, yang asal Rembang, di Sumber Wangi?

Yang agak mungkin ialah Surå Sentikå yang dimaksud itu ayah Ki Samin, apalagi para pengikut Saminisme menyebutnya Samin Sepuh. Tetapi, data Profesor Suripan menyebut nama Sang Ayah itu Radèn Surå Wijåyå dan punya hubungan darah dengan para adipati di Jåwå Timur, khususnya di Rajègwesi (kini: Bojonegoro) dan Sumåråtå, Tulungagung.

Apa yang tercatat dalam sejarah resmi? Apa hubungannya dengan Nåyå Sentikå dan Surå Sentikå?

“Dengan (di)pimpin… (oleh) Radèn Tumenggung Aryå (R.T.A.) Såsrådilågå, pada tanggal 28 November 1827, rakyat Rembang mengadakan perlawanan terhadap Belanda di Rajègwesi. … pasukan rakyat yang memihak Dipånegårå pada tanggal 5 Desember 1827 berhasil menduduki Pad(h)angan dan selanjutnya bergerak ke kota Ngawi. Tetapi, sayang, Såsrådilågå yang merupakan tokoh (yang) berperan… dalam mengobarkan perlawanan di daerah Rembang juga menyerah (pada) tanggal 3 Oktober 1828.”[18]

Siapakah R.T.A. Såsrådilågå ini?

“Pemimpin perlawanan rakyat di daerah Rembang ini… putra bekas bekas Bupati Rajègwesi. Bupati ini meninggal dunia dan dimakamkan di Rajègwesi. R.T.A. Såsrådilågå dilahirkan dan dibesarkan di Rajègwesi. … saudara perempuan(nya)… kawin dengan penghulu-kepala daerah Rembang. Pada waktu Perang Dipånegårå pecah, Såsrådilågå menjadi tumenggung dan menjabat… perwira… pasukan Kraton Yogyåkartå. Jadi, mengingat hubungan kekeluargaannya dengan… pembesar yang besar pengaruhnya di daerah Rajègwesi dan Rembang, ditambah lagi dengan hubungannya yang erat dengan Pangéran Dipånegårå, pemimpin dan pahlawan yang dicintai, maka tidak begitu (meng)heran(kan) kita jikalau Såsrådilågå… punya… pengaruh yang besar dan segera mendapat(kan) pengikut yang tidak sedikit jumlahnya,” tulis Sagimun M.D.[19]

Karesidènan Rembang, yang membawahkan Regensi Blora, pada zaman Perang Dipånegårå memang merupakan daerah perlawanan rakyat yang sangat mengancam Belanda. “Rakyat di daerah Rembang terkenal sebagai… orang yang berdarah panas dan amat sukar diperintah oleh Belanda,” tulisnya lagi.[20] Kota lain yang dapat direbut pada tanggal 5 Desember 1827 ialah Bowernå (kini: Baurenå atau Burnå), 31 Desember 1827: Bancar, Kragan, Séd(h)an, dan Lasem, serta Tambakbåyå, sedangkan Blora, Rembang, dan Tuban sempat dikepung.[21]

Dengan tulisan pada dua buku ini, Profesor Suripan yakin Pepakem Nåyå Sentikå memiliki kebenaran sejarah. Ia pun menduga R.T.A. Såsrådilågå itu pemimpin kelompok perlawanan rakyat yang beranggotakan Nåyå Sentikå dan Surå Sentikå.[22] Dengan kata lain, tradisi lisan dan tulis pun terkait dengan fakta sejarah, meskipun telah dibumbui dengan yang bersifat fiksi alias dongeng. Betapapun, ketiga unsur itu sulit dipisahkan secara tajam.

Menurut Sagimun, rakyat yang berjuang pada saat itu memiliki kelengahan dan kelemahan. “… pasukan rakyat setelah mendapat(kan) kemenangan… selalu tidak mau meneruskan… gempurannya dan terus-menerus menerjang musuh yang tentunya makin merosot semangatnya. Setelah mencapai kemenangan… pasukan rakyat sering beristirahat atau bersenang-senang dulu.”[23]

(Ki Slamet No One)

[1] Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo, Tradisi dari Blora, Penerbit Citra Almamater, Semarang, cetakan pertama, 1996, halaman 7.

[2] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 13.

[3]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 13, dengan mengutip

  • Victor T. King, Some Observations on the Samin Movement of North-Central Java, dalam BKI, deel 129, 4e aflevering, Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage, 1973.
  • The Siauw Giap, The Samin Movement in Java: Complementary Remarks, dalam Revue du 1968 Sud-Est Asiatique et de l’Extreme Orient, No. 2, 1967.
  • Harry J. Benda dan Lance Castles, The Samin Movement, dalam BKI, deel 125, 2e aflevering, Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage, 1969.
  • A. Pieter E. Korver, The Samin Movement and Millenarisme, dalam BKI, deel 132, 2e+3e aflevering, Martinus Nijhoff, 1976.
  • Onghokham, Pulung Affair: Pemberontakan Pajak di Desa Patik, dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, No. 1, Th. VII, Januari 1977, Jakarta.
  • R.P.A. Suryanto Sastroatmodjo, Gerakan Saminisme: Siapakah Mereka?, dalam Optimis, No. 43, Agustus 1983, Jakarta. 

 

[4] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 13 dan 16, dengan mengutip Ki Samin Suråsentikå, Layang Punjer Kawitan, manuskrip salinan tulisan tangan aksara Jåwå, milik Samsuri, Tapelan, Bojonegoro, tanpa tahun.

[5] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 13. Lihat juga Cyprianus Anto (C.A.) Saptowalyono, Samin: Kultur Berlatar Perlawanan Penjajah, dengan nama file: 1514448.htm, dalam rubrik Tanah Air, Kompas Cyber Media (KCM), Jumat 4 Maret 2005.

[6]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 13-14.

[7]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 14 dan 16.

[8]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 19 dan 16-17.

[9]  Istilah Jåwå disélong (harfiah: diasingkan) tersusun dari awalan “di” yang ditambahkan pada kata dasar “sélong”. Kata ini sangat boleh jadi berasal dari kata “Céylon” (kini: Sri Lanka). Kenapa begitu? Pada zaman kolonial, pemerintah Hindia Belanda suka membuang tokoh pribumi yang memberontak dan tertangkap ke pulau tersebut yang saat itu juga berada di bawah kekuasaannya. Pemimpin lokal yang diasingkan ke sana antara lain Syèh Yusuf Makassar (h. 1037-1111 H/1626-1699 M) serta Sunan Amangkurat III (k. 1703-1709) dan Sunan Amangkurat V (k. 1757-1795).

[10]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 17.

[11]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 17.

[12]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 14.

[13] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 17.

[14]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 17.

[15] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 47, dengan mengutip Anonim, Pambukå Purwaning Caritå Rakyat Nåyå Sentikå Gelar Nåyå Gimbal, manuskrip ketik, Blora, tanpa tahun. Ejaan disesuaikan dan kalimat diperbaiki –Ki SNO.

[16] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 47-48, dengan mengutip Anonim, op.cit., tanpa tahun.

[17] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 49, dengan mengutip Anonim, op.cit., tanpa tahun.

[18] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 53, dengan mengutip Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, IV, Balai Pustaka, Jakarta, 1984.

[19] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 53, dengan mengutip Sagimun M.D., Pahlawan Diponegoro Berjuang, Gunung Agung, Jakarta, 1965, halaman 172-173.

[20]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 53, dengan mengutip Sagimun M.D., op.cit., 1965, halaman 172.

[21]  Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 53, dengan mengutip Sagimun M.D., op.cit., 1965, halaman 175.

[22] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 55.

[23] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 54, dengan mengutip Sagimun M.D., op.cit., 1965, halaman 175. ]

Read Full Post »

samin

O

ORANG SAMIN ATEIS? –Sekadar Penggugah

“Lakonånå sabar trokal. Sabaré dieling-eling. Trokalé dilakoni.”

(Jalanilah sabar dan tawakal. Kesabaran itu perlu diingat-ingat terus. Tawakalnya dilaksanakan).

TERLALU BANYAK cap diberikan oleh pakar Barat, terutama ahli ketimuran (orientalist), terhadap Samin Suråsentikå (h. 1859-1914) dan ajarannya, agåmå Adam. Yang paling parah ialah tuduhan bahwa Samin itu ateis dan ajarannya menolak gagasan tentang Tuhan, tak peduli itu Ållåh atau ilah yang lain.

Kita seakan-akan diajak hanyut dan mengikut bahwa pada akhirnya stempel ini benar dan bukannya menyesatkan. Sayang, Ki Samin telah meninggal, tak bisa lagi diwawancarai untuk dimintai kejelasan apa yang sebenarnya dikehendakinya. Naskah pedoman ajaran yang ditulisnya juga entah masih ada entah tidak. Kita hanya bisa berharap mendapatkan secercah kebenaran dari “catatan” orang lain, yang rata-rata memang bisa dibilang pakar.

C.L.M. Penders, M.A., Ph.D., dari Departemen Sejarah, Universitas Queensland, Australia, misalnya, menulis “Around 1890, Surontiko Samin, an illiterate farmer dari desa Randublatang in the Blora region, began to spread his basically religious teachings: the agåmå Adam –the religion of Adam. Rejecting the idea of God –either Ållåh or any other kind– the agåmå Adam was a kind of agricultural fertility cult, placing great emphasis on the basic relationships of man with the earth. Closely connected with this was Samin’s view of marriage, sex and the position of women.”[1]

Terjemahannya secara bebas kurang lebih: “Pada kira-kira tahun 1890, Samin Surå(se)ntikå, petani buta huruf dari desa (di) Randublatung di daerah Blora, mulai menyebarkan ajarannya yang pada dasarnya agama: agåmå Adam. Menolak gagasan tentang Tuhan –baik Ållåh maupun sembahan apa pun yang lain–, agåmå Adam itu semacam pemujaan kesuburan pertanian, yang menempatkan penekanan besar pada hubungan dasar manusia dengan bumi. Terkait erat dengan ini ialah pandangan Samin tentang pernikahan, seks, dan kedudukan perempuan.”

Tuduhannya itu didasarkan pada pendapat Victor T. King, “Indeed Samin’s emphasis on fertility, sexual imagery and the magical power inherent in sex is reminiscent of traditional agricultural fertility cults. Like other peasant cults in other part of the world, these Javanese cults held the belief in a conjugal union between heaven and earth. From this union comes all living things. These beliefs also emphasize the important position of the peasant farmer who participates in the ‘marriage’ by tilling the soil.”[2]

(Sungguh penekanan Samin pada kesuburan, tamsil seksual, dan kekuatan magis yang ada dalam seks mengingatkan pada penyembahan tradisional atas kesuburan pertanian. Seperti kepercayaan petani yang lain di bagian lain dunia, pemujaan oleh orang Jåwå ini percaya pada pertalian suami-istri antara surga dan bumi. Dari hubungan ini, timbul segala sesuatu yang hidup. Kepercayaan ini juga menekankan kedudukan penting petani yang ikut dalam ‘perkawinan’ itu dengan cara bercocok tanam.)

Dalam pandangan C.L.M. Penders, kecintaan magis-mistis yang kuat kepada tanah ini menjelaskan kenapa orang Samin biasanya merupakan petani yang paling rajin dan berhasil di daerah itu.[3]

Akan tetapi, tulis C.L.M. Penders dengan mengutip laporan penelitian The Siauw Giap, langkah menekan pemerintah Belanda koloniallah yang dipandang oleh kaum Samin “infringe the sacred bond between the peasants and the earth…”[4] (melanggar ikatan suci antara petani dan bumi) dan demikianlah, dengan berbagai cara, agåmå Adam merupakan pernyataan kembali, peneguhan nilai suci lama yang terancam oleh campur tangan luar.

Sementara itu, A. Pieter E. Korver menulis, “At the core of Samin’s teachings was the so-called ‘faith of Adam’, a form of natural religion of which the veneration of the earth and a high estimation of the role of the peasant in society were important features. Samin’s teachings were further marked by a distinct puritanical trait; stealing, lying and adultery were forbidden to Samin’s followers. Women, like the peasants, were also held in high respect by the Saminists. In addition, the Saminists were non-Moslem and did not believe in the existence of Ållåh.“[5]

(Yang ada pada inti ajaran Samin ialah apa yang disebut ‘agåmå Adam’, sebentuk agama alamiah yang memandang penting pemujaan bumi dan penilaian tinggi atas peran petani dalam masyarakat. Ajaran Samin lebih ditandai dengan ciri puritan yang nyata; Mencuri, berdusta, dan berzina terlarang bagi penganut Samin. Wanita, seperti petani, juga diperlakukan dengan sangat hormat oleh orang Samin. Selain itu, orang Samin itu non-muslim dan tidak percaya akan keberadaan Ållåh.)

Dr. Berhard Dahm pun menulis, “… gerakan komunis utopis, yang tidak ada kaitannya dengan tradisi Ratu Adil –akan tetapi yang juga menggunakan… cara yang tidak memberi(kan) harapan– sama-sama memanfestasikan watak anti-asing, dan berhasil menarik… pengikut dalam jumlah besar sekali,” dengan catatan kaki: “yakni Gerakan Samin.”[6]

Mau lebih parah lagi? Juga tidak mau memandangnya sebagai gerakan mesianisme: mencari juru selamat yang di Jåwå lebih dikenal sebagai Imam Mahdi, A.V.E. Korver mengajak kita mengaji Saminisme dari sudut pandang milenarisme: yang semula meyakini bahwa Kristus akan berkuasa di dunia selama seribu tahun, mengalahkan setan, dan memasukkan umat ke dalam kemuliaan abadi.[7]

Itu semua baru sebagian dari tuduhan, cap, dan giringan yang mau tak mau harus dikaji secara kritis. Akan tetapi, dari mana kajian yang bersifat bantahan ini harus dimulai?

Belakangan ini, di Internet, masalah Samin “menghangat lagi” atau “kembali memeroleh momentum”. Mateus Lesnanto dan Leornadus Kristianto Nugraha, misalnya, dalam Archetho’s Weblog, menulis “Pengantar” berikut ini.

“Orang Samin kerap… diasosiasi… dengan masyarakat ‘terbelakang, tidak sopan, pemberontak, tertutup, tak mengenal agama, dan dicurigai anggota PKI[8]’. Tetapi, apakah semua itu benar? Berdasarkan pengalaman sekelompok orang yang mendekati kelompok ini, orang Samin adalah orang yang sama sekali jauh dari gambaran di atas. Paper ini akan menjelaskan identitas masyarakat Samin dari sudut pandang perlawanan mereka terhadap dominasi penguasa, yang dilandasi semangat tanpa kekerasan.”[9]

Akhirnya, kedua peneliti ini sampai pada simpulan:

Pokok ajaran Saminise sebenarnya sangat sederhana. Namun, yang perlu pertama-tama diingat adalah pandangan Samin berada dalam mainstream Jåwå. Artinya, ada latar belakang ke-Jåwå-an tertentu yang melandasi pemikiran orang Samin.
Hidup wong sikep itu mengikuti (agåmå) Adam, yang ditafsirkan dari kata damel (adam = dam = damel), yaitu mengolah tanah pada waktu siang dan melaksanakan tatané wong pada malam hari.
Mereka kemudian memilih agama budå (bedakan dari Buddhå) yang berarti mlebuné udå (masuknya telanjang). Penganut Samin sendiri mengartikan budå dalam perspektif mereka. Bagi mereka, dengan beragama budå, mereka tidak mengubah agama mereka.
Samin Suråsentikå mencoba membentuk gerakan perlawanan yang tidak menggunakan sarana kekerasan fisik –semodel konsep Ahimsa Gandhi. Inilah model perlawanan secara “halus”, nonfisik (kultural).[10]

Jadi, dari mana sebenarnya cap pemberontak itu pertama-tama berasal? Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan anggota Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Sutamat Arybowo memberikan jawabannya.

“Beberapa catatan kolonial Belanda menyebut bahwa Kiai Samin Suråsentikå… sebagai pembangkang, pemberontak, selalu melawan pemerintah. Oleh karena itu, ajarannya tidak boleh disebarluaskan dan oleh mainstream agama pada saat itu dianggap sesat, lalu mau tidak mau ia harus diasingkan dari pengikutnya,” tulisnya.[11]

“… nilai tradisi yang dapat dipetik adalah… strategi ajaran orang Samin dalam …implementasi… kehidupan sehari-hari. Misalnya, mereka antikekerasan, jujur, terbuka, dan tidak mau menyakiti orang lain. Orang Samin mengejawantahkan kehidupan dengan solidaritas sosial.”[12]

Nah, sampai di sini, Anda rasakan tidak adanya bau kontradiksi? Yang satu bilang ateis yang lain bilang ajaran Samin itu agama, misalnya. Oh ya, Anda mungkin bertanya kepada saya: apa pendapat saya sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di tanah yang melahirkan Saminisme?

Saya yakin Ki Samin Suråsentikå tidak ateis dan Saminisme bukan komunisme. Alasannya? Ajaran utamanya tentang sabar lan trokal (sabar dan tawakal) saja sudah menunjukkan bahwa ada Sesembahan yang disebut Tuhan dalam agåmå Adam. Kalaupun kata Adam diartikan “ndamel” (membuat) pun, itu justru menunjukkan adanya “Ingkang nDamel” (Yang Membuat, Yang Menciptakan).

“Samin tidak seperti yang disangkakan orang: ateis. Mereka mengenal Sang Hyang Wenang, Tuhan,” kata Darmo Subekti, budayawan lokal Blora yang akrab dengan dan tahu banyak tentang Saminisme. Ia bicara demikian ketika diwawancarai oleh G. Sujayanto dan Mayong Suryo (M.S.) Laksono.[13]

Darmo, yang pernah menjadi anggota tim penyusunan sejarah Kabupaten Blora dan kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Daerah, pernah diinterogasi oleh Kantor Sosial Politik Kabupaten Blora gara-gara menulis artikel “Generasi Baru Samin” di Suara Merdeka, 19 Juli 1989.

Menurut dia, cap ateis muncul lantaran aparat kesulitan mengelompokkan masyarakat itu. Daripada susah-susah akhirnya digolongkan saja sebagai kelompok ateis. “Etnis bukan, keagamaan bukan, paling gampang ya ateis,” ucap Darmo getir.

Sulit dipercaya bagaimana masyarakat kemudian cenderung lebih mempercayai gambaran negatif itu bila membicarakan soal Samin, tulis G. Sujayanto dan Mayong Suryo (M.S.) Laksono. Berikut ini catatan kedua penulis ini:

“Faktanya, Samin memang dipandang dengan kacamata buram. Ia identik dengan segolongan masyarakat yang tidak kooperatif, tak mau bayar pajak, enggan ikut ronda, suka membangkang, suka menentang. Bahkan tuduhan seram: ateis. Pada masa Orde Baru, misalnya, (di)tanggal(kan)nya ajaran Samin… oleh sekelompok masyarakat dianggap sebagai tahap… yang patut diupacarakan.”[14]

Yang dimaksud oleh kedua penulis ini ialah pernikahan massal sembilan pasang warga desa Karangrowo, Undaan, Kabupatèn Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 3 Januari 1997, misalnya, diupacarakan sebagai tanda ditanggalkannya ajaran Saminisme yang turun-temurun dianut oleh sembilan pasangan itu.[15]

Apakah orang Samin tetap membawa sikapnya yang tak mau membayar pajak dan antipemerintah  setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945?

Kita, memang, mau tak mau harus mengajinya secara adil, tidak memihak, dan apa adanya. Kalau perlu, kita harus memandangnya dengan menyisihkan definisi yang secara mentradisi sudah tertanam dalam benak kita. Dengan kata lain, pandanglah Saminisme dengan jernih, tanpa prasangka, dengan menggunakan term (baca: bahasa) mereka sendiri.

Marilah kita baca Saminisme sebagaimana Kiai Samin menulisnya dalam kitabnya dan juga mengajarkannya lewat sesorah-(harfiah: ceramah)-nya. Siapa tahu kita bisa memetik mutiara –yakni nilai-nilai luhur– yang tersembunyi di balik kesederhanaannya. Saya sih berharap dapat menyusun butir-butir cara berpikir yang spesifik dan lugas itu menjadi lateral thinking yang saya mencapnya: neo-Saminisme.

(Ki Slamet No One) ]

[1]       Dr. C.L.M. Penders, Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty in North-East Java, Gunung Agung, Singapura, 1984, halaman 116.

[2]       C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 116, dengan mengutip Victor T. King, The Samin Movement of North-Central Java, dalam Bijdragen tot de Taal-Land en Volkenkunde, volume 129, 1973, halaman 407-1. Bijdragen atau BKI adalah majalah terbitan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).

[3]       C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 117.

[4]       C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 117, dengan mengutip The Siauw Giap, The Samin and Samat Movement in Java: Two examples of Peasant Resistance, dalam Revue du Sud-est Asiatique, 1967/2, 1968/1, 1969/1, halaman 75.

[5]       A. Pieter E. Korver, The Samin Movement and Millenarism, dalam Bijdragen tot de Taal-,Land- en Volkenkunde, 132, Leiden, 1976, halaman 250 dari 249-266.

[6]       Bernhard Dahm, Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan, penerjemah: Hasan Basari, LP3ES, Jakarta, cetakan pertama, Desember 1987, halaman 14, dengan catatan: Analisis tentang gerakan ini terdapat dalam

  • Tjipto Mangunkusumo, Het Saminisme: Rapport uitgebracht aan de Vereeneging Insulinde, Benjamins, Semarang, 1918, dan
  • Harry J. Benda dan Lance Castles, “The Samin Movement”, makalah Congress of Asian Studies di Kuala Lumpur, 1968.

Buku Dahm berasal dari disertasinya di Universitas Kiel, Jerman Barat, 1965, yang pertama kali diterbitkan sebagai Volume XVIII der Schriften des Instituts fur Asienkunde di Hamburg, Sukarno Kampf um Indonesiens Unabhängigkeit-Werdegang und Indeeneines asiatischen Nationalisten, Frankfurt, 1966. LP3ES itu Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial.

[7]       Lihat:

  • A. Pieter E. Korver, op.cit., dalam BKI, 132, 1976, halaman 249-266.
  • Gerald O’Collins, S.J., dan Edward G. Farrugia, S.J., Kamus Teologi, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, cetakan kedua, 1997, halaman 198.

[8]       PKI itu Partai Komunis Indonesia. PKI didirikan pada kuartal ketiga tahun 1920. Bernhard Dahm, op.cit., Desember 1987, halaman 45, dengan catatan: untuk informasi lebih lanjut tentang asal-usul PKI, lihat

  • Ruth McVey, The Rise of Indonesian Communism, Cornell University Press, Ithaca, 1965, dan
  • J.Th. Petrus Blumberger, De communistische beweging in Nederlandsch-Indië, Tjeenk Willink und Zoon, Haarlem, 1928.

[9]       Mateus Lesnanto dan Leornadus Kristianto Nugraha, Samin: Bentuk Perlawanan tanpa Kekerasan, dalam Archetho’s Weblog, http://archetho.wordpress.com/ on April 16, 2008 at 3:15 pm.

[10]       Ibid.

[11]       Sutamat Arybowo, Orang Samin dan Pandangan Hidupnya, dalam http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/10/humaniora/3522042.htm

[12]       Ibid.

[13]      G. Sujayanto dan Mayong Suryo (M.S.) Laksono, Samin: Melawan Penjajah Dengan Jawa Ngoko, dalam majalah Intisari, Juli 2001, yang juga dipunggah ke website hhtp://www.indomedia.com dengan nama file: intisari/2001/Juli/warna_samin.htm, yang di antaranya juga di-posting ke laman http://desantara.org/v3, 1 Desember 2008.11:37.

[14]       Ibid.

[15]       G. Sujayanto dan M.S. Laksono, op.cit., dalam majalah Intisari, Juli 2001, dengan mengutip berita di Harian Kompas, 7 Januari 1997.

Read Full Post »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Read Full Post »