Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘KA’

5.LOKASI SAMIN ITU DESA IDEAL DALAM CEMPORET?

AKAN HALNYA SESUATU yang “murni” Jåwå, meski masih mengaitkannya dengan kemungkinan hubungan Samin-Kalang, saya sebagai “peneliti amatir” terbawa-bawa ke Desa Cengkarsari di hutan Jatisari dalam puisi romans menarik karya R.M.Ng. Rånggåwarsitå, Serat Cemporèt.
Menurut Imam Supardi, sesuai dengan cåndrå sengkålå (ciri tahun bulan): songsong gorå cåndrå, Serat Cemporèt ditulis pada tahun 1799 Jåwå atau 1877 Masèhi, atas perintah Raja Pakubuwånå IX (k. 1861–1893). Konon, pujangga penutup Keraton Suråkartå ini menulis Serat Cemporèt setelah membaca Tantu Panggelaran.[1]
Serat Cemporèt adalah kisah percintaan antara Radèn Jåkå Pramånå, putra mahkota Pagelèn, dan Dèwi Suretnå dari Jepårå. Karena salah paham, Sang Pangéran Adipati memberontak terhadap ayahnya, dengan cara menjadi raja bergelar Prabu Déwåsaråyå dan mendirikan Kerajaan Medhangsèwu di Cengkarsari.
“It is interesting that the same craving for the return to the pure, harmonious life of the true Java of the past might also have been underlying a poem called Serat Cemporèt by the last great Javanese pujånggå Rånggåwarsitå” (Menarik bahwa idaman yang sama akan kembalinya kehidupan murni harmonis Jåwå sejati dari masa lalu mungkin juga telah mendasari buku puisi berjudul Serat Cemporèt oleh pujangga besar terakhir Jåwå Rånggåwarsitå), tulis C.L.M, Penders.[2]
Ia menambahkan, “Disillusioned by the disintegration of traditional Javanese civilisation around him in this poem he depicted the simple like of Ki Cemporèt and his wife in the serene and idyllic forest setting of Cengkalsari, existing in true harmony with man and animal alike, using a poetic type Ngoko –lower Javanese language– to indicate equality” (Dikecewakan oleh kesemrawutan peradaban tradisional Jåwå di sekitarnya, dalam puisi ini, ia mengisahkan manusia sederhana Ki Buyut Cemporèt dan istrinya di hutan yang tenang dan asri rekaannya, Cengkarsari, yang mewujudkan keselarasan sejati dengan manusia dan juga binatang, dengan menggunakan ragam dialek Ngoko –bahasa Jåwå kasar– untuk menunjukkan kesetaraan).
“Cengkalsari, however, later proved to be a real place located in the teak forests of Blora where there were many places related to the sacred ancestors of the royal families of central Java” (Cengkarsari, walau bagaimanapun, kemudian terbukti merupakan tempat nyata yang berada di hutan jati Blora, yang mengandung banyak tempat yang terkait dengan leluhur suci keluarga kerajaan Jåwå tengah), tulisnya pula.
C.L.M. Penders kemudian mengutip data tesis J.A. Day bahwa “It is not unthinkable that Rånggåwarsitå’s use toponym Cengkalsari was meant to mark the fictional village as an ancestral retreat and place of opposition to the rules and mores of the court…” (Tak terpikirkan bahwa penggunaan toponim Cengkarsari oleh Rånggåwarsitå bermakna untuk menandai desa khayalan itu sebagai tempat peristirahatan leluhur dan tempat penentangan terhadap peraturan dan adat-istiadat istana…).[3]
Lebih dari itu, menurut J.A. Day, tembang tersebut punya sesuatu dari warga Samin yang terkemudian tentang ia: “Saminist attempted to live by the egalitarian social virtues which Rånggåwarsitå’s poem obscurely teaches. Like the Saminist after him, Rånggåwarsitå might be saying, never very clearly, that only the here and now of individual moral action, not the future coming of a ratu adil creates the millennium…” {Warga Samin berusaha hidup dengan kebajikan sosial yang meyakini semua orang sederajat yang puisi Rånggåwarsitå secara tersamar mengajarkannya. Seperti pengikut Saminisme yang hidup setelah ia, Rånggåwarsitå mungkin berkata, tak pernah secara sangat jelas, hanya tindakan moral pribadi di sini dan sekarang, bukan kedatangan ratu adil kelak, yang menciptakan milenium (seribu tahun) yang baru…}.[4]
Baik penghinaan oleh bupati terhadap Ki Samin yang diceritakan kembali oleh J. Bijleveld maupun gagasan untuk melakukan “tindakan moral pribadi di sini dan sekarang” yang disarankan secara terselubung oleh Rånggåwarsitå dalam Serat Cemporèt mungkin saling melengkapi dalam mendorong Kiai Samin Suråsentikå untuk menjadikan dirinya penyelamat umat yang menderita dengan cara melakukan “perlawanan pasif” yang sekarang mungkin lebih populer dengan istilah “pembangkangan madani” (civil disobedience).
Ki Samin sebagai bangsawan Radèn Kohar, menurut penelusuran Profesor Suripan, membaca karya Rånggåwarsitå seperti tampak dalam anjurannya kepada anak didiknya agar “maos buku karanganipun pårå linangkung” (membaca buku karya para cerdik cendekia). Bahkan, sebagai orang yang mengerti riwayat hidup sang pujangga penutup Keraton Suråkartå, ia menggunakan tokoh “pemberontak zamannya” yang bernama kecil Bagus Burhan itu sebagai teladan akan sesuatu tindakan lewat kalimat “… Rånggåwarsitå piyambak sampun nglampahi…” (… Rånggåwarsitå sendiri sudah melakukan…).[5]
“… Samin Surå(se)ntikå bukanlah orang desa biasa, melainkan orang desa yang istimewa. Berkat bacaannya yang luas, … Samin Surå(se)ntikå mampu mengajak bangsanya yang tertindas untuk melawan pemerintah kolonial Belanda dengan taktik dan strategi tersendiri,” tulis Suripan.[6]
“Samin Surå(se)ntikå yang hidup dari… 1859 sampai… 1914 (umur 55 tahun) ternyata telah ikut memberikan warna ke dalam sejarah perjuangan bangsanya, walaupun orang di daerahnya, Blora, yang bukan warga Samin, mencemoohkannya. … selama 17 tahun perjuangannya (1890-1907), ia telah dapat menghimpun kekuatan yang luar biasa…,” tulisnya lebih lanjut.
Siapa sebenarnya bupati yang diceritakan oleh Bijleveld telah menghinanya itu? Ditilik dari kisah Bijleveld bahwa di pendåpå tersebut keduanya membahas “masalah mistik dan hal suci”, boleh jadi yang dimaksud ialah Bupati Blora Radèn Mas Tumenggung (R.M.T.) Cåkrånegårå (k. 1886-1908), yang menggantikan Radèn Sudirman.[7]
“… Cåkrånegårå diangkat menjadi bupati Blora dengan surat keputusan tertanggal 10 Januari 1886. Di dalam memerintah daerahnya, ia dibantu oleh… patih… Radèn Mertå Atmåjå. Cåkrånegårå juga punya konduite baik, sehingga… mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jenderal. Pada… 1901, ia mendapatkan hadiah gelar kehormatan adipati dan… 1908, gelar kehormatan aryå. Ia dipensiun pada tahun” itu juga.[8]
Menurut Profesor Suripan, ia diberi penghargaan karena jasanya, antara lain menumpas Kraman (Pemberontakan) Nåyå Gimbal, bekas prajurit Pangéran Dipånegårå yang melakukan Perang Jåwå mulai 20 Juli 1825 hingga 28 Maret 1830. “… karena itu, bupati ini… tidak melekat di hati rakyat. Pada masa… Cåkrånegårå… bupati Blora, Karesidènan Rembang, dan daerah sekitarnya dicabik-cabik oleh pembuatan jalan kereta api oleh perusahaan swasta Belanda.”[9]
Pembuatan jalan kereta api di Pulau Jåwå pada abad ke-19, tulis Sartono Kartodirdjo, merupakan kebutuhan mendesak. Tujuannya yang utama untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, yakni pengangkutan hasil perkebunan dari pedalaman ke kota pelabuhan, di samping untuk mengendalikan daerah yang bergolak dan terisolir.[10]
Pembangunannya diawali di kota pelabuhan seperti Batavia (kini: Jakarta), Semarang, dan Suråbåyå. Jadwal pengerjaannya, menurut D.G. Stibbe, antara lain jalur Semarang–Juwånå (1881), Kudus–Mayong (1886), Demak–Wiråsari (1887), Wiråsari–Blora (1891), Mayong–Petangalian (1894), Wiråsari–Kuwu (1895), Kuwu–Kradènan, Juwånå–Tayu–Pakin, Juwånå–Rembang–Lasem, Mayong–Welahan, Rembang–Blora–Plunturan (=Cepu?), Bojonegoro–Jatirogo (1896), Lasem—Ngand(h)ang–Jatirogo (1898–1918), Gund(h)i–Purwådadi (1912), dan Bojonegoro–Suråbåyå (1913).[11]
“Jadi, hubungan Blora–Semarang atau sebaliknya terlebih dahulu lewat Wiråsari, Purwådadi, dan baru kemudian lewat Rembang. Sampai Indonesia merdeka, jalur ini… penting dan terpendek dari Blora ke Semarang untuk mengangkut hasil hutan kayu jati. Kini, jalur kereta api ini, juga… jalur lain, telah ditutup dan perannya digantikan oleh jalan raya,” catat Profesor Suripan.[12]
Tidak diperoleh data yang dapat mengaitkan baik pembangunan jalan kereta api ini maupun pengangkutan kayu jati dari pedalaman Blora ke pelabuhan Semarang dengan Gègèr Samin serta bekas wong Kalang sebagai blandhong (penebang kayu). Akan tetapi, seperti di bagian mana pun dunia, pembangunan rel pada zaman penjajahan mau tidak mau menimbulkan penderitaan rakyat jelata.
Padahal, kesengsaraan oleh tindakan penguasa sering dialami oleh masyarakat Blora sebelumnya. Peristiwa Plambora, yang oleh Th.St. Raffles disebut Conquest of the District of Blora (Penaklukan Blora) pada tahun 1556[13] –sumber lain, termasuk Babad Sangkålå,[14] menyebutkan 1554– merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan. Penaklukan ini terjadi setelah kekalahan Adipati Jipang, Aryå Penangsang, pada tahun 1549.
Orang Blora memberontak terhadap Pajang, karena Sultan Hadiwijåyå bertindak adigang adigung adigunå terhadap rakyat Blora. Raja ini sering mengganggu anak dan istri orang, serta merampas harta milik orang. Blora pun diserang dan dibumihangus, bahkan sebagian besar lelakinya dibunuh oleh prajurit Pajang dan sisanya melarikan diri ke hutan jati yang waktu itu masih lebat dan asli.
Akibatnya: yang tersisa di kota Blora pun tinggal kaum perempuan, para janda, serta bayi dan anak kecil. Peristiwa ini menjadi buah bibir, sehingga muncul keråtå båså bahwa kata “blora” itu berasal dari “obrolane sak årå-årå” (menjadi pembicaraan orang setanah lapang, yang pada zaman dulu luas-luas). Tetapi, orang yang tidak suka Blora me-mleset-kannya menjadi “obloné sak årå-årå” (pelacurnya banyak). Kata “oblo” dalam dialek Blora sekarang memang berarti “pelacur” padahal dulu bermakna “janda”, tulis Profesor Suripan.[15]
Beberapa tahun kemudian, mereka yang lari ke hutan kembali ke kota dan membangunnya kembali. Sebagian, yang masih tinggal di hutan, hidup bersama orang Kalang. Selain di Blora, menurut sarjana Belanda E. Ketjen, orang Kalang juga hidup di Bojonegoro, sangat boleh jadi di wilayah yang dipisahkan oleh Bengawan Sålå dari Blora.[16]
Versi paling tua tentang orang Kalang, masih menurut E. Ketjen, biasanya dikaitkan dengan kerajaan Mendhang atau Medhang Kamulan. Di mana letak tepatnya kerajaan ini, belum ada bukti yang menguatkannya. Kira-kira 10 kilometer arah selatan kota Blora, kini ada desa kecil, Kamolan, yang menghasilkan semangka bajul (harfiah: buaya bandot) yang bentuknya lonjong dan isinya bewarna kuning, masir, dan manis, enak dipakai untuk –pinjam istilah orang Betawi– gegares (makan) nasi putih.
Lokasi nyata kerajaan Medhang Kamulan inilah yang difiksikan menjadi desa Cengkarsari oleh Rånggåwarsitå dalam antologi tembang romans Serat Cemporèt yang menurut Imam Supardi banyak berisikan “kaélokan rupå-rupå kang ora tinemu ing akal, sinelingan ugå piwulang rupå-rupå kang mathuk ing jaman semånå” (beragam keanehan yang tidak masuk akal, diselingi juga ajaran macam-macam yang sesuai dengan zaman itu).[17]
Dengan mengutip legenda dan mitos lokal, duo sejarahwan H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud menyatakan Blora sebagai tempat tinggal orang pandai zaman bahari, Arung Bondan, arsitek yang merupakan nenek moyang para patih dan raja zaman kuno. Kedua sarjana asal Belanda dan Jerman itu juga menyebutkan bahwa Bojonegoro –dulu ditulis Bojå Nagårå– itu konon tempat tinggal putra raja, Angling Darmå, yang mengerti bahasa hewan.[18]
Apakah mitos ini juga ikut mengilhami Rånggåwarsitå dalam menulis Serat Cemporèt yang memang mengisahkan binatang yang bisa berbicara, bahkan nembang, melantunkan puisi måcåpat, belum didapatkan data dari kisah kehidupan pujangga besar yang menurut Imam Supardi, meramalkan kematiannya sendiri dalam Serat Sabdå Jati dalam tembang Megatruh yang harfiahnya berarti “pisah nyawa”:

Cinitrå ri budå kaping wolulikur
Sawal ing taun Jimakir
Candraning warså pinetung
Nembah mukså pujanggaji
Ki pujånggå pamit layon.[19]

{Alkisah hari Budå (Rabu) tanggal duapuluh delapan, sawal tahun Jim Akhir, gambaran tahun dihitung, menyembah moksa pujangga raja, Sang Pujangga pamit mati.}

Dan, kurang lebih seminggu setelah pamit seperti itu, pada hari Rabu Pon 5 Selå 1802 atau 24 Desember 1873, Rånggåwarsitå meninggal, dengan mewariskan buku banyak sekali. Kematiannya hingga kini masih mengundang teka-teki. Tembang pamit satu bait itu sendiri mengisyaratkan ia tahu kapan ajal menjemputnya.[20]
Masalahnya ialah Rånggåwarsitå tahu karena “weruh sak durungé winarah” (tahu sebelum terjadi) ataukah karena hari kematiannya itu memang sudah dipastikan oleh penguasa. Ini menimbulkan desas-desus ia meninggal akibat menelan permata.[21] Dan, bila ini benar, orang secerdas ia pasti tidak mungkin melakukan “bunuh diri” atas kemauan sendiri.
Itulah sekilas tentang kematian Sang Pujangga yang walau bagaimanapun menunjukkan sikap “teguh pada pendirian, walau nyawa terancam sekalipun” –sifat yang juga dimiliki oleh Kiai Samin Suråsentikå dan: pada akhirnya, dalam bentuk “keras kepala” (stubborn) juga dipunyai keturunan dan warga Samin.
Hal ini juga dicatat oleh peneliti Saminisme. “Finally, the Kalang-Samin hypothesis offers an explanation for the observation by (H.J.) Benda-(L.) Castles” {Akhirnya, hipotesis Kalang-Samin menawarkan penjelasan bagi observasi (H.J.) Benda-(L.) Castles}, kata C.L.M. Penders, dengan mengutip pendapat kedua pengamat itu tentang “the sheer stubborness with which some Javanese in a rather remote part of the island have clung to the ideas of their long dead founder…” (sikap keras kepala belaka yang melekatkan sebagian orang Jåwå di bagian yang agak terpencil pulau itu dengan gagasan pendahulu mereka yang telah lama mati…).[22]
Masih ada hal yang dianggap sebagai potongan bukti menarik yang lagi-lagi disediakan oleh T. Altona. Ia menekankan bahwa Kalang tak lagi ada sebagai kelompok penduduk terpisah. Menurut ia, “the word Kalang is practically solely known by the people, at least in Bojonegoro, in expression ‘he has manners of a Kalang’ which refers to somebody who in expressing himself to his superiors does not know the proper form of address…” (kata Kalang praktis hanya diketahui orang, paling tidak di Bojonegoro, untuk mengungkapkan “ia berperi laku seperti Kalang” yang merujuk pada seseorang yang menyatakan dirinya kepada orang yang lebih tinggi derajatnya tidak tahu tåtå kråmå yang tepat…).[23]
Ini mungkin sekali terkait dengan kenyataan bahwa orang Kalang asli seperti warga Samin yang terkemudian dengan sadar menolak menggunakan cara yang pantas untuk berbicara dan memakai bahasa Jåwå kasar Ngoko dalam percakapan dengan semua orang, termasuk priyayi dan petinggi kolonial Belanda.
Lebih dari itu, karakteristik seperti penghormatan lebih besar yang ditunjukkan orang Samin kepada istri mereka, dalam pandangan C.L.M. Penders, menjadi lebih dimengerti bila dipandang dalam hubungan peradaban pra-Hindu bila tidak pra-Malayu-Polinesia, seperti Negrito –yang disebut dalam hubungan dengan Kalang oleh beberapa cendekiawan– tempat struktur sosial matrilinial merupakan sesuatu yang umum.[24]
Sungguh sukar dimengerti kenapa para peneliti Barat sama sekali tidak melihat kemungkinan karakteristik itu berasal dari ajaran Islam yang memang dipelajari oleh Radèn Kohar yang sebagai Ki Samin telah menyederhanakannya agar mudah dipahami oleh para pengikutnya.
Penyederhanaan ini dilakukan Kiai Samin Suråsentikå mengingat bacaan dalam bentuk tembang yang digunakannya sebagai rujukan, demikian juga buku pedoman keislaman yang menggunakan bahasa Arab, susah dimengerti oleh orang pedesaan, tempat Ki Samin mengabdikan dirinya untuk mengentaskan mereka dari penderitaan akibat penjajahan oleh pemerintah Hindia Belanda, terutama sekali dari sikap lalim yang justru ditunjukkan oleh bangsa sendiri yang menjadi kaki tangan Belanda, seperti yang dialami Radèn Kohar di pendapa kabupatèn.
Sungguh melegakan ketika pada akhirnya C.L.M. Penders menolak secara logis hipotesis akan adanya hubungan langsung antara Kalang dan Samin dengan menyatakannya sebagai terkaan belaka (too conjectural).[25]
Pada sisi lain, tulisnya pula, jauh lebih sukar, berdasarkan bukti yang tersedia, untuk menyangkal adanya hubungan sebab-akibat tak langsung, misalnya bahwa dalam proses pembauran Kalang ke dalam penduduk Jåwå umumnya di daerah hutan Gunung Kend(h)eng, beberapa konsep dan nilai budaya asli Kalang tetap utuh.
Hal ini akan menjelaskan keserupaan antara kepercayaan dan pola perwatakan Kalang dan Samin. Bila Saminisme tak lagi lebih dari sekadar tanggapan khas petani Jåwå terhadap meningkatnya penekanan ekonomi dan kekerasan,[26] lebih baik ditanyakan kenapa Saminisme tidak terjadi di kawasan lain yang secara ekonomis juga tertekan sangat buruk seperti Gunung Kidul dan Banyumas.
Pada akhirnya, C.L.M. Penders menutup bab ketujuh bukunya yang dijuduli Nationalism itu dengan kalimat simpulan bahwa Saminisme paling tidak merupakan ragam regional yang menarik dari protes petani Jåwå tradisional. Gambaran-khasnya merupakan hasil hubungan dengan orang Kalang yang tinggal di jantung daerah Samin.[27]

(Ki Slamet No One) 
Catatan Kaki:
[1] R.M.Ng. Rånggåwarsitå, Tjemporèt, diprosakan oleh Imam Supardi, Penerbit Panjebar Semangat, Suråbåyå, cetakan pertama, Oktober 1962, halaman 5–6.
[2] C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 123.
[3] J.A. Day, Meaning of Change in the Poetry of 19th century Java, tesis Ph.D. Cornell University, 1981, halaman 277–278, sebagaimana dikutip oleh C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 124.
[4] J.A. Day, op.cit., 1981, halaman 284, dalam C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 124.
[5] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 38.
[6] Ibid.
[7] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 43, dengan mengutip Pemerintah Daerah Kabupaten Blora, Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Blora, Pemerintah Daerah Kabupaten Blora, Blora, 1987, halaman 31–33.
[8] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 43-44, dengan mengutip Pemerintah Daerah Kabupaten Blora, op.cit., 1987, halaman 21.
[9] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 44.
[10] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 45, dengan mengutip Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900, PT Gramedia, Jakarta, 1988, halaman 363–367.
[11] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 44-45, dengan mengutip D.G. Stibbe, Spoor en Tramwegen, dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, Jilid IV, Martinus Nijhof dan E.J. Brill, ‘s-Gravenhage dan Leiden, 1921, halaman 68–85.
[12] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 45.
[13] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 3, dengan mengutip Th.St. Raffles, The History of Java, London, 1817.
[14] Babad Sangkålå merupakan koleksi J.L.A. Brandes No. 608. Naskahnya kini tersimpan di Perpustakaan Nasional, Jakarta.
[15] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 4.
(Sedikit catatan: Tentang keråtå båså yang bersifat mengejek ini, Parni Hadi, yang pernah menjadi pemimpin umum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara dan salah satu pendiri Harian Umum Republika, begitu pulang dari mengepalai biro Antara di Jerman dan bertemu dengan saya di kantor pusat Antara di Jakarta, 19.., pun menanyakan daerah asal saya. Ketika saya menjawab “Blora,” Parni pun berkomentar spontan, “obloné sak årå-årå” dan kemudian, “O, ternyata kamu orang Samin.” Terus terang, waktu itu saya kaget, karena saya tidak tahu arti kata “oblo” yang kemudian dijelaskan oleh Parni bahwa itu “begènggèk,” kata lain dari “pelacur”, dan saya lalu merasa bangga karena oleh Parni disebut sebagai “orang Samin” –Ki SNO.)
[16] Suripan Sadi Hutomo, op.cit., 1996, halaman 5, dengan mengutip E. Ketjen, De Kalangers dan Geschiedenis der Kalangs op Java, dalam majalah Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, LIII, 1877. [17] R.M.Ng. Ranggawarsita, op.cit., dalam Imam Supardi, op.cit., Oktober 1962, halaman 5.
[17] H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, cetakan keempat, 2001, halaman 143.
[18] R.M.Ng. Ranggawarsita, op.cit., dalam Imam Supardi, op.cit., Oktober 1962, halaman 6.
[19] Anjar Any dan beberapa pengamat menyebutkan, selengkapnya “tembang pamit” itu tiga bait, merupakan bait ke-16, -17, dan -18 Serat Sabda Jati. Lihat Anjar Any, Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa Yang Terjadi?, Penerbit Aneka Ilmu, Semarang, cetakan pertama, 1985, halaman 68.
[20] Anjar Any, op.cit., 1985, halaman 87 dan 91.
[21] C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 125, dengan mengutip H.J. Benda dan L. Castles, op.cit., halaman 209.
[22] C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 124, dengan mengutip T. Altona, op.cit., halaman 547.
[23] C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 124.
[24] C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 125.
[25] C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 125, dengan mengutip pendapat yang dikemukakan oleh Takashi Shiraishi dalam seminar di Cornell University pada tanggal 16 April 1983.
[26] C.L.M. Penders, op.cit., 1984, halaman 125.

Iklan

Read Full Post »