Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘nggendheng itu senjata’

6.
NGGENDHENG
SEBAGAI SENJATA MELAWAN BELANDA

D
ARI CERITA RAKYAT –yang sering berbau mitos– mengenai turunnya wangsit ratu adil bagi Samin Suråsentikå, Profesor Suripan melihat betapa besar penghormatan –dan juga kepatuhan– warga Samin, terutama di Desa Tapelan, Ploso Kedhirèn, dan Tanjungsari, kepada pemimpinnya.
Ki Samin dianggap orang suci dan pemimpin yang karismatis. Dalam bentuk gelar Prabu Suryå Ngalam yang mereka berikan, ia dipandang bagaikan “cahaya terang yang menyinari dunia”, yang datang menerangi kegelapan hati orang Samin, khususnya di Desa Tapelan, yang telah kehilangan pegangan pada zaman pemerintah kolonial Belanda.
Pada zaman itu, kata mereka, orang Samin sangat menderita. Mereka dipaksa membayar pajak. Mereka dipaksa ikut blandhongan, melakukan kerja rodi atau kerja paksa sebagai penebang dan pengangkut kayu di hutan jati. Kalau menolak, mereka akan didatangi pamong desa atau pelpulisi, polisi pemerinah Hindia Belanda. Mereka ditangkap dan disiksa. Banyak tanah pertanian mereka dirampas untuk ditanami jati.
Perlakuan kejam itu mengakibatkan mereka mengalami kekurangan pangan. Badan mereka kurus-kurus. Mereka tak punya keberanian melawan, karena tak punya semangat dan senjata. Padahal, tanah yang mereka miliki rata-rata juga tak begitu layak untuk bertani.
Tapelan, misalnya, adalah desa yang “tandus. Bila musim hujan, air yang tercurah dari langit tidak meresap ke dalam tanah, tapi terus mengalir ke… kali kecil di sekitarnya, dan kemudian bermuara di Bengawan Sålå. Hal ini disebabkan oleh… struktur tanah desa… terdiri… tiga lapis… atas… tanah liat, pasir, dan sedikit kapur… tengah… tanah padas… bawah… batu-batuan. Struktur tanah yang demikian ini tentu saja tidak menguntungkan pertanian,” tulis Profesor Suripan.
Karena itu, tidak salah apa yang disimpulkan oleh Dr. C.L.M. Penders bahwa “Tampak jelas Gerakan Samin terutama berakar pada kekecewaan ekonomi. Kawasan tempat kebanyakan orang Samin tinggal, tanah kapur liat tak teririgasi di Bojonegoro dan Blora, demikian miskin.”
Potensi pertaniannya jauh lebih rendah ketimbang banyak daerah lain dan karena pajak yang terus dinaikkan serta usaha peningkatan kesejahteraan yang umumnya tidak dikehendaki seperti pendidikan, lumbung desa, dan bibit sapi yang didatangkan dari luar negeri, beban para petani ini kian berat.
Ki Samin menolak membayar pajak dan tidak melaksanakan apa pun yang diperintahkan oleh pemerintah agar rakyat mengerjakannya, termasuk pelayanan atas kaum feodal (heeren-diensten), dan tugas desa.
“Dhèk jaman Låndå niku, njaluk pajeg mboten trimå sak legané, nggih mboten diwèhi. Blas mboten seneng. Ndandani ratan nggih bébas, gak gelem, wis dibébasaké. Kenèk jågå, yå ora nyang, jågå omahé dhéwé. Nyengkah ing negårå, telung taun dikenèki kerjå pekså” (Pada zaman Belanda itu, penarikan pajak tidak hanya seikhlasnya, ya tidak dibayar. Sama sekali tidak senang. Memperbaiki jalan juga bebas, tidak mau, sudah dibebaskan. Kena ronda, ya tidak berangkat, menjaga rumah sendiri. Melawan negara itu dikenai kerja paksa tiga tahun), kata tradisi lisan Tapelan, mengenang civil disobedience (pembangkangan madani) terhadap pemerintah seperti yang diajarkan Ki Samin.
Pembangkangan madani itu dianjurkan oleh Ki Samin dengan alasan, seperti ditulisnya dalam Layang Punjer Kawitan, Tanah Jåwå ini bukan milik Belanda, melainkan titipan Prabu Puntådéwå kepada Sunan Kalijågå. Berpedoman keyakinan akan kepemilikan tanah serta segala yang ada di dalam dan permukaannya itu, ia dan pengikutnya seenaknya saja menebangi pohon jati yang sebelumnya ditanam oleh Belanda melalui progam Tanam Paksa (Cultuurstelsel).
Kewajiban mempertahankan tanah air ini –yang dalam tradisi Jåwå, khususnya wong Blora, diungkapkan dalam ibarat “sakdumuk bathuk saknyari bumi” yang secara bebas setara dengan “membela negeri sampai titik darah penghabisan”, — merupakan tujuan perjuangan pasif Ki Samin, yang oleh cendekiawan Australia Dr. C.L.M. Penders, seperti yang digunakan sebagai judul bab ketujuh bukunya yang khusus membicarakan Gègèr Samin, disebut nationalism (semangat kebangsaan).
Lebih jauh tentang sikap politik ini, dalam Serat Pikukuh Kasajatèn, Kiai Samin mengajar dalam metrum Dhudhukwuluh atau Megatruh :

Nagårantå niskålå andugå arum
apråjå mulwikèng gati
gèn ngaub miwah sumungku
tur iyå anggemi ilmu
rukun(w)argå tan ånå blekuthu

(Negara Anda niscaya akan harum, pemerintahan yang membuahkan tanda waktu, untuk bernaung dan bersandar, apalagi rakyatnya suka ilmu, rukun tanpa gangguan apa pun);

dan dalam metrum Dandanggulå :

Pramilå sasåmå kang dumadi
mikani rèh papaning sujånå
supåyå tulus pikukuhé
angrenggå jagat agung
lelantaran mangun sukapti
limpadé kang sukarså
wiwåhå angayun
sukå bukti mring prajèngwang
pananduring mukti kapti amiranti
dilah kandhiling satyå

(Maka sesama makhluk Tuhan, memahami hukum dari cendekiawan, supaya tulus pegangannya, menghiasi alam semesta, melalui niat yang baik, kecendekiaan yang menyenangkan, bak pengantin berkeinginan, suka berbakti pada negerinya, ingin memasak makanan yang siap dengan bumbunya, dian penyulut kesetiaan).

Itulah strategi politik Ki Samin, yang dalam pandangan Profesor Suripan, didasarkan pada budaya Jåwå yang religius, bukan pesimistis, melainkan penuh kreativitas dan keberanian, sekaligus membuktikan Kiai Samin Suråsentikå itu berpengetahuan luas dan memahami budaya serta watak bangsanya.
Perlawanan ini pada umumnya pasif dan ketika ditekan oleh pejabat pemerintah, kadang-kadang pajak dibayar dalam bentuk “sumbangan”.
Dalam keadaan seperti itu, Ki Samin mendirikan Peguron Adam (Perguruan Adam) di Desa Klopodhuwur, tempat ia tinggal. Ia menamai perguruannya demikian, karena “punjer kawitan” (awal mula umat manusia) itu memang Nabi Adam. Ajarannya pun disebutnya agåmå Adam, ajaran yang pertama kali dianut dan diajarkan oleh Nabi Adam.
Selain mengajarkan ajaran etika tentang peri laku hidup baik dunia dan akhirat, Kiai Samin Suråsentikå juga mengajarkan cara melawan pemerintah kolonial. Mengingat penduduk tidak memiliki semangat dan senjata, ia mengajak mereka nggendheng atau pura-pura gila (ngédan) atau pura-pura bersifat aneh.
Dapat dipastikan ajaran ini merupakan pengejawantahan sederhana anjuran dalam Serat Kalatidhå karya Rånggåwarsitå:

amenangi jaman édan
ewuh åyå ing pambudi
melu édan ora tahan
yèn tan melu anglakoni
båyå kaduman milik
kaliren wekasanipun
dilalah kerså Ållåh
begjå-begjané kang lali
luwih bejå kang eling lan waspådå

(Mengalami zaman gila, sukar-sulit dalam akal-ikhtiar. Turut gila tidak tahan. Kalau tak turut menjalaninya, tidak kebagian milik, kelaparan akhirnya. Takdir kehendak Ållåh. Sebahagia-bahagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar dan waspada).
Sesuai dengan Layang Jamus Kalimåsådå, menurut Ki Samin, nggendheng itu sifat Prabu Puntådéwå. Ini agak sulit dimengerti, secara umum sulung Pandhåwå itu dikenal sebagai orang yang jujur dan apa adanya. Mungkin inilah cara Ki Samin menerjemahkan sifat lugu itu menjadi senjata untuk melawan.
Orang sekarang yang mengerti Saminisme mungkin hanya akan menyatakan, “Itulah logika Samin!” Baginya, wayang dan sejarah itu memang tidak berbeda dan merupakan kesinambungan. Rantai kontinyuitas ini ialah pertemuan antara Puntådéwå dan Sunan Kalijågå di hutan Glagah Wangi, Bintårå, Demak.
Pertemuan ini ditulis dalam bagian pertama naskah måcåpat berbahasa-huruf Jåwå, Serat Sriyånå, tepatnya pada halaman 1-57. Hanya saja, dalam manuskrip ini Puntådéwå disebut Yudhistirå, yang anehnya dengan gelar Prabu Darmåwångså. “Setelah (mendapatkan) banyak ajaran mengenai Islam, Darmåwångså akhirnya meninggal dengan tentrem. Jenazahnya dikuburkan di Glagah Arum, dan masih bisa dilihat di sana.” Begitu ditulis dalam Serat Sriyånå.
Pengaitan “othak-athik mathuk” seperti menata jigsaw puzzle ini tak pelak lagi dilakukan oleh Rånggåwarsitå ketika menyusun pakem (induk cerita) wayang, yang dimulai dengan Serat Paråmåyogå pada tahun 1884, berlanjut dengan serial Serat Puståkå Råjå –Purwå, Madyå, Anatårå, dan Wasånå– serta Serat Cemporèt, sebagaimana cara yang dipraktikkan pendahulunya dalam menyusun Babad Tanah Djawi.
Bagi Ki Samin, yang rupanya rajin membaca karya Rånggåwarsitå tersebut, wayang itu juga sejarah. Ini tecermin dari ceramahnya di tanah lapang Desa Bapangan, Blora, pada hari Kamis Legi 7 Februari 1889.
“Gur tamèh éling bilih sirå kabèh horak sanès turun Pand(h)åwå, lan huwis nyipati kabrokalan krandhah Måjåpahit sakèng kakragé wadyå musuh. Mulå sakawit biyèn kålå nirå Puntådéwå titip Tanah Jåwå marang hing Sunan Kalijågå” (Ingatlah bahwa kalian itu tak lain dan tak bukan adalah keturunan Pandhåwå, yang sudah mengetahui kehancuran keluarga Måjåpahit yang disebabkan oleh serangan musuh. Maka dari itu, sejak peristiwa tersebut, Puntådéwå menitipkan Tanah kepada Sunan Kalijågå. Itulah yang menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan), katanya dalam sesorah itu.

(Ki Slamet No One)
Catatan Kaki:

Iklan

Read Full Post »